LUMBUNG EMAS DI ATAS TANAH YANG DIKHIANATI Anak Tiri di Kota Medan: Kaya Sumber Daya, Tapi Rakyat Hidup Susah

Advertisement

LUMBUNG EMAS DI ATAS TANAH YANG DIKHIANATI Anak Tiri di Kota Medan: Kaya Sumber Daya, Tapi Rakyat Hidup Susah

 DELI TIMES OFFICIAL
Selasa, 05 Mei 2026


 
LUMBUNG EMAS DI ATAS TANAH YANG DIKHIANATI Anak Tiri di Kota Medan: Kaya Sumber Daya, Tapi Rakyat Hidup Susah
 





Medan Utara, 5 Mei 2026 – Secara geografis dan ekonomi, Belawan adalah gerbang utama Sumatera Utara. Wilayah ini adalah jantung perdagangan dan logistik, di mana ribuan ton barang melintas setiap hari, triliunan rupiah uang berputar, dan pelabuhan megah berdiri kokoh sebagai simbol kemajuan bangsa.
 



Namun, di balik gemerlap gedung-gedung tinggi dan aktivitas ekonomi yang luar biasa itu, tersimpan sebuah luka menganga yang tak kunjung kering selama puluhan tahun. Belawan ibarat "Anak Tiri" yang kaya raya, tapi diperlakukan semena-mena. Luka ini bukan terjadi karena ketidaksengajaan, melainkan diduga kuat sengaja dibiarkan membusuk oleh mereka yang kita angkat menjadi "Wakil Rakyat" dan "Pemimpin Kota".
 
 
 
INFRASTRUKTUR: JALAN HANCUR, TAPI PAJAK MENGALIR DERAS
 





Lihatlah kondisi jalanan di Belawan dan Medan Utara. Hancur lebur, penuh lubang mematikan, dan becek. Ironisnya, jalanan yang rusak parah ini setiap hari dilalui oleh truk-truk raksasa dan aset bernilai miliaran rupiah milik BUMN maupun perusahaan swasta raksasa.
 



Pertanyaan besarnya adalah: Ke mana perginya pajak yang begitu besar yang dibayarkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut?
 


Apakah anggaran tersebut benar masuk ke kas daerah, atau justru ada "negosiasi di bawah meja" yang membuat kerusakan jalan ini dianggap hal biasa dan tidak mendesak untuk diperbaiki?
 


Sangat menyakitkan melihat pejabat daerah seolah membungkam diri. Mata mereka seolah tertutup debu proyek yang hanya menguntungkan segelintir kelompok, sementara rakyat kecil harus mempertaruhkan nyawa setiap hari melintasi jalan yang tidak layak.
 
TUNTUTAN:




Kami menuntut transparansi total terkait setoran pajak perusahaan yang beroperasi di Medan Utara. Anggaran ini harus jelas peruntukannya, khususnya untuk perbaikan infrastruktur oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU). Jangan sampai uang rakyat digunakan untuk kepentingan segelintir orang.
 
 
 
KESEJAHTERAAN: KEMISKINAN YANG SENGAJA DIPELIHARA
 





Di sisi lain, saat rakyat sakit dan membutuhkan pertolongan, mereka dihadapkan pada kenyataan pahit. Rumah sakit pemerintah maupun fasilitas kesehatan milik BUMN kekurangan alat medis, kekurangan tenaga ahli, dan pelayanan yang memprihatinkan. Nyawa manusia seolah terasa murah di tanah ini.
 



Lebih memilukan lagi adalah masalah data kesejahteraan sosial. Data warga miskin terlihat carut-marut dan tidak jelas.
 


Kami menilai, ketidakteraturan ini bukan karena kesalahan administrasi, melainkan sebuah desain kebijakan yang jahat. Kemiskinan di Belawan sengaja dipelihara, dijadikan komoditas politik setiap lima tahun sekali.
 
Rakyat dibuat tetap lapar dan menderita, agar saat musim pemilu tiba, suara mereka mudah dibeli dengan janji manis, paket sembako, dan uang segepok. Kita bukan lagi warga negara yang punya hak, kita hanyalah "Lahan Tumbal Politik".
 
DESAKAN:
Pemerintah Kota Medan harus segera membenahi Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTSEN). Bantuan sosial harus tepat sasaran, tidak boleh lagi dipolitisasi, dan tidak boleh menjadi alat membeli suara rakyat.
 
 
 
PENJARAHAN ATAS NAMA INVESTASI: CSR HANYA "UANG TUTUP MULUT"
 




Perusahaan besar, BUMN, dan swasta meraup keuntungan luar biasa dari tanah Belawan. Mereka mengambil kekayaan alam dan tenaga kerja, namun apa yang dikembalikan kepada masyarakat? Hanya remah-remah yang tak seberapa.
 



Program Tanggung Jawab Sosial atau CSR yang digelontorkan seringkali tak lebih dari sekadar "Uang Tutup Mulut". Uang itu digunakan untuk menutupi pelanggaran undang-undang lingkungan hidup, pencemaran yang meracuni warga, serta pengabaian hak-hak ketenagakerjaan.
 

Aset negara yang seharusnya bisa menyejahterakan rakyat banyak, justru dikelola layaknya harta pribadi oleh oknum pejabat dan kelompok tertentu. Mereka berpesta pora di atas limbah beracun dan penderitaan buruh yang upahnya ditekan serta jaminan sosialnya dicuri.
 
PERTANYAAN KERAS:


Di mana pengawasan Pemko Medan terhadap pengelolaan dana CSR ini? Mengapa dana sosial yang seharusnya untuk rakyat justru tidak jelas alurnya dan manfaatnya?
 
 
 
BELAWAN TIDAK BUTUH KASIHAN, BELAWAN BUTUH KEADILAN
 
Sampai kapan kita harus menjadi penonton di rumah sendiri? Sampai kapan Belawan hanya dijadikan "Sapi Perahan" oleh para elit politik dan ekonomi yang tak punya hati nurani?
 
Perubahan tidak akan pernah datang dari ketukan palu sidang atau janji manis pejabat yang jiwanya sudah terjual. Perubahan hanya akan datang jika kita berhenti diam, berani bersuara, dan mulai menuntut hak-hak kami yang dirampas secara sistematis.
 
Belawan tidak butuh belas kasihan.
Belawan butuh KEADILAN.
Belawan butuh KEMAKMURAN.
Belawan butuh dihargai sebagai pemilik sah tanah ini.
 
 
 (tim)